Mengenal Telaga Milik Nabi Shallallahu’alaihi wasallam di Hari Kiamat


Penulis: As-Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin Rahimahullah
Adalah seperti yang disebutkan oleh penulis kitab Syarah Al Aqidah Al Waasithiyyah (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) dengan perkataan Beliau : 
وَفِي عَرَصَات الْقِيَامَةِ الْحَوْضُ الْمَوْرُودُ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم
Dan dalam ‘Arshaatil qiyamah (padang mahsyar hari kiamat) terdapat Al Haudh (telaga) milik Nabi shallallahu’alaihi wasallam yang akan didatangi manusia.
Al ‘Urshaatu adalah jamak dari ‘urshah, secara bahasa artinya tempat yang luas di antara bangunan. Yang dimaksud di sini adalah padang mahsyar hari kiamat.
Al Haudhu makna asalnya adalah kumpulan air, dan yang dimaksud di sini adalah telaga Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Pembicaraan tentang telaga Nabi shallallahu’alaihi wasallam ini ada beberapa perkara:
Al Haudh telah ada wujudnya sekarang ini.
Karena telah tsabit dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, Beliau pernah berkhutbah kepada para shahabatnya pada suatu hari:
“Dan sesungguhnya aku demi Allah Ta’ala telah melihat kepada telagaku sekarang ini”. (HR. Al Bukhari Muslim)1
Dan juga telah tsabit dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam, Beliau berkata :
“Dan mimbarku di atas telagaku.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)2
Dan kemungkinan telaga tersebut ada di tempat tersebut (di bawah mimbar Beliau -pent). Akan tetapi kita tidak menyaksikannya karena ini adalah perkara ghaib. Atau kemungkinan lain bahwasanya mimbar Beliau akan diletakkan di atas telaga pada hari kiamat nanti.
Telaga tersebut dialiri oleh dua saluran air dari Al Kautsar.
Kautsar yaitu sungai yang amat besar yang diberikan kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam di surga. Yang keduanya turun ke dalam telaga tersebut.3

Zaman Al Haudh ini adalah sebelum melintas Ash Shirat,


Karena keadaan yang menuntut demikian. Yaitu sesungguhnya manusia itu sangat membutuhkan kepada minuman ketika di padang mahsyar hari kiamat sebelum melintas di Ash Shirat.4
Yang akan mendatangi telaga tersebut adalah orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, yang mengikuti syariat Beliau shallallahu’alaihi wasallam. Adapun orang yang enggan dan sombong, tidak mau mengikuti syariat Beliau shallallahu’alaihi wasallam akan ditolak dari telaga tersebut.5
Tentang sifat air telaga tersebut.
Berkata Penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
مَاؤُهُ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ, وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ
Airnya itu lebih putih dari susu, lebih manis dari madu
Lebih putih dari susu, Ini dari segi warnanya. Adapun dari segi rasanya lebih manis dari madu. Dan dari segi aroma lebih wangi dari harum misik, sebagaimana yang tsabit hadits dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam.6
Tentang gelas-gelasnya.
Berkata Penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
آنِيَتُهُ عَدَدُ نُجُومِ السَّمَاءِ
Jumlah gelas-gelasnya adalah sejumlah bilangan bintang di langit.
Sebagaimana diriwayatkan dalam sebagian lafazh hadits, di antaranya:
“Gelas-gelasnya seperti bintang-bintang di langit.” (HR. Al Bukhari Muslim).
Dan lafazh yang ini lebih sempurna, karena (gelas-gelas tersebut -pent) seperti bintang-bintang di langit dari segi jumlah dan dari segi sifat yang bercahaya dan berkilau, maka gelas-gelasnya seperti bintang di langit yang sangat berkilau lagi terang.
Ukuran Al Haudh.
Berkata Penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
طُولُهُ شَهْرٌ, وَعَرْضُهُ شَهْرٌ
Panjangnya perjalanan sebulan, dan lebarnya perjalanan sebulan.
Yang demikian itu berarti bentuk telaga tersebut adalah bujur sangkar, karena tidak mungkin berjarak demikian dari segala sisi kecuali kalau bentuknya adalah bujur sangkar. Jarak tersebut berdasarkan yang telah maklum di zaman Nabi shallallahu’alaihi wasallam berupa perjalanan dengan unta umumnya.
Pengaruh bagi orang yang meminumnya.
Berkata Penulis (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah):
مَنْ يَشْرَبُ مِنْهُ شَرْبَةً; لَا يَظْمَأُ بَعْدَهَا أَبَدًا
Barang siapa yang meminumnya satu tegukkan, maka dia tidak akan haus selama-lamanya.
Hingga dia berada di Ash Shirat sesudahnya. Ini adalah hikmah Allah Ta’ala karena demikianlah, sesungguhnya orang yang telah ‘meminum’ syariat Beliau shallallahu’alaihi wasallam di dunia, dia tidak akan merugi selamanya.
Akan tercurah ke telaga tersebut dua buah saluran dari sungai Al Kautsar yang Allah Ta’ala berikan kepada Muhammad shallallahu’alaihi wasallam.
Apakah para nabi juga memiliki telaga?
Maka jawabnya adalah : Ya, karena telah datang dari hadits riwayat At Tirmidzi, walaupun hadits ini diperbincangkan keshahihannya :
“Sesungguhnya setiap nabi memiliki haudh.7
Akan tetapi hadits ini yang menguatkannya adalah maknanya, yaitu bahwasanya Allah Ta’ala dengan hikmah dan keadilan-Nya telah menjadikan telaga untuk Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, di mana kaum mukminin dari kalangan umatnya akan mendatanginya, maka Allah Ta’ala juga menjadikan telaga bagi setiap nabi sehingga kaum mukminin terdahulu akan mengambil manfaat dengannya. Akan tetapi telaga yang terbesar adalah telaga Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
__________
Footnote:
1 Diriwayatkan Al Bukhari (6590) dan Muslim (2296) dari Uqbah bin Amr Al Anshari radhiallahu’anhu.
2 Diriwayatkan Al Bukhari (6589) dan Muslim (1391) dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu.
3 Berdasarkan hadits riwayat Muslim (2300-2301) dari Hadits Abu Dzar radhiallahu’anhu dan Tsauban radhiallahu’anhu.
4 Berdasarkan riwayat Abdullah bin Al Imam Ahmad dalam Ziyadaat ‘ala Al Musnad (3/13) dalam hadits yang panjang dari Abu Rizzin, berkata Al Hafizh dalam Al Fath: (11/467) sesudah menguatkan Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah, At Thabarani dan Al Hakim berkata: dan ini adalah jelas bahwasanya telaga itu terjadi sebelum Ash Shirat.
5 Telah tsabit yang demikian dalam Shahih Al Bukhari (6576) dan Muslim (2297) dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
أنا فرطكم على الحوض فليرفعن إلي رجال منكم حتى إذا أهويت لأناولهم اختلجوا دوني فأقول أي رب أصحابي يقول لا تدري ما أحدثوا بعدك
Aku mendahului kalian di atas Al Haudh dan sekelompok manusia dari kalian akan diangkat kepada Al Haudh, kemudian mereka terpisah dariku, maka aku katakan: “Wahai Rabbku selamatkan sahabatku.” maka dikatakan: “Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sesudah kematianmu.”
6 Diriwayatkan Al Bukhari (6579) dan Muslim (2292) dari Abdullah bin Amru radhiallahu’anhu.
7 Dikeluarkan Al Imam At Tirmidzi (2443) Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah dan hadits ini diriwayatkan oleh Al Haitsami dalam Majmu’ (10/363) dengan lafazh yang lain dan Beliau berkata: di dalamnya ada seorang rawi bernama Marwan bin Ja’far As Samiriy dan dia ditsiqahkan oleh Ibnu Abi Hatim. Berkata Al Azdiy : manusia mengkritiknya. Dan rijal lainnya adalah tsiqat. Berkata Al Albani dalam Ash Shahihah (1589): Dan kesimpulannya hadits ini dengan semua jalan-jalannya adalah hasan atau shahih, wallahu a’lam. Lihat Fathul Baari (11/467).

Telaga Nabi yang Dijanjikan

 (ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menerangkan, “Ahlus Sunnah berbeda pendapat dalam hal urutan al-Haudh (telaga), syafaat, dan ash-shirath: manakah yang lebih awal?
Al-Imam al-Bukhari Rahimahullah—sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah —mengisyaratkan tentang urutannya, bahwa al-Haudh itu setelah shirath dan hisab, serta setelah itu semuanya.
Namun, banyak ulama yang menyelisihinya. (Mereka berpendapat) al-Haudh-lah yang pertama, sebelum peristiwa ash-shirath, hisab, mizan, bahkan sebelum itu semua, karena manusia keluar (dari kuburan mereka) dalam keadaan haus, sebagaimana berita di dalam hadits yang sahih.” (Syarh Aqidatus Salaf, hlm. 153)

Makna al-Haudh

Secara etimologi, al-Haudh adalah tempat terkumpulnya air dalam jumlah yang banyak, yakni telaga. Adapun makna al-Haudh secara syar’i adalah sebuah telaga di Mahsyar, yang airnya bersumber dari sungai al-Kautsar (yang dikaruniakan) kepada Nabi n. (Syarh Lum’atul I’tiqad li Ibnu ‘Utsaimin hlm. 123)

Dalil-Dalil Adanya al-Haudh

Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami Rahimahullah berkata, “Sungguh, terdapat dalil tentang penyebutan al-Haudh, yaitu tafsiran al-Kautsar dengan makna al-Haudh, keberadaan dan sifat-sifatnya, dari sanad-sanad para sahabat g dari Nabi n, yaitu hadits-hadits yang masyhur dengan sanad-sanad yang banyak bahkan sampai derajat mutawatir. Hadits-hadits tersebut termuat dalam kitab-kitab hadits, seperti kitab-kitab Shahih, Hasan, Musnad, dan Sunan.” (Ma’arijul Qabul 2/871)
Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi Rahimahullah berkata, “Hadits-hadits yang menyebutkan al-Haudh mencapai derajat mutawatir. Ada lebih dari tiga puluh sahabat g yang meriwayatkannya. Guru kami, ‘Imaduddin Ibnu Katsir, benar-benar telah membahas sanad-sanadnya di bagian akhir kitab sejarah yang besar yang berjudul al-Bidayah wan Nihayah.” (Syarh Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 309)
Di antara dalil as-Sunnah yang menunjukkan adanya telaga milik Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam adalah:
إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا، وَلَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ، فَأَقُولُ: إِنَّهُمْ مِنِّي. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ. فَأَقُولُ: سُحْقًا، سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي
“Sesungguhnya aku akan mendahului kalian di telaga itu. Barang siapa yang melewatiku, dia akan minum di telaga itu, dan barang siapa yang berhasil minum darinya, niscaya dia tidak akan merasa haus selamanya. Sungguh, beberapa kaum akan berusaha melewatiku. Aku mengenal mereka dan mereka mengenaliku. Kemudian dipisahkan antara aku dengan mereka.” NabiShallallaahu ‘alaihi Wasallamberkata, “Aku katakan, ‘Sesungguhnya mereka dari golonganku!’ Dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu!’ Aku katakan, ‘Amat jauh (telagaku) bagi orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah z, NabiShallallaahu ‘alaihi Wasallambersabda,
إِنَّ حَوْضِي أَبْعَدُ مِنْ أَيْلَةَ مِنْ عَدَنٍ لَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ الثَّلْجِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ بِاللَّبَنِ وَلَآنِيَتُهُ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ النُّجُومِ، وَإِنِّي لَأَصُدُّ النَّاسَ عَنْهُ كَمَا يَصُدُّ الرَّجُلُ إِبِلَ النَّاسِ عَنْ حَوْضِهِ. قَالُوا: يَا ر َسُولَ اللهِ، أَتَعْرِفُنَا يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، لَكُمْ سِيمَا لَيْسَتْ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ، تَرِدُونَ عَلَيَّ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ
“Sesungguhnya telagaku lebarnya lebih jauh daripada jarak Ailah1 ke Aden. Sungguh warna airnya lebih putih daripada salju, lebih manis daripada madu dicampur susu, dan bejana-bejana untuk meminumnya jumlahnya lebih banyak daripada jumlah bintang-bintang di langit. Sungguh aku akan menghalangi orang-orang darinya (orang yang tidak berhak meminumnya), sebagaimana seorang penggembala unta menghalangi unta orang lain dari telaganya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau akan mengenali kami pada saat itu?” BeliauShallallaahu ‘alaihi Wasallammenjawab, “Tentu, kalian memiliki tanda-tanda yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari umat-umat terdahulu. Kalian akan mendatangiku dalam keadaan wajah, tangan, dan kaki kalian putih bersinar karena wudhu.” (HR. Muslim)

Telaga Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam Sudah Ada

RasulullahShallallaahu ‘alaihi Wasallammengabarkan kepada kita,
إِنِّي فَرَطٌ لَكُمْ وَأَنَا شَهِيدٌ عَلَيْكُمْ، وَإِنِّي وَاللهِ لَأَنْظُرُ إِلَى حَوْضِي الْآنَ
“Sesungguhnya aku akan mendahului kalian di telaga. Aku sebagai saksi atas kalian dan sesungguhnya aku—demi Allah—sedang memandang telagaku sekarang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Uqbah bin Amir z)

Apakah Nabi Selain RasulullahShallallaahu ‘alaihi WasallamJuga Memiliki Telaga?

RasulullahShallallaahu ‘alaihi Wasallambersabda,
إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً، وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً
“Sesungguhnya setiap nabi r memiliki telaga di akhirat dan sungguh mereka saling berbangga-bangga, siapakah di antara mereka yang paling banyak peminum/pengunjungnya. Sungguh, aku berharap kepada Allah bahwa telagakulah yang paling banyak pengunjungnya.” (HR. al-Bukhari dalam at-Tarikh, ath-Thabarani, dan lainnya. Al-Albani mengatakan dalam ash-Shahihah no. 1589, “Kesimpulannya, hadits ini dengan segenap jalan-jalannya adalah hasan atau sahih. Wallahu a’lam.”)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin Rahimahullah berkata, “Sebagaimana Allah l telah mengaruniai Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam sebuah telaga— dengan hikmah dan keadilan-Nya l—yang akan didatangi dan diminum oleh orang-orang yang beriman dari umatnya, Dia l juga mengaruniai setiap nabi sebuah telaga. Dengan demikian, orang-orang yang beriman akan mendapatkan manfaat dari para nabi yang diutus kepada mereka (sebelum umat ini). Akan tetapi, telaga yang paling agung adalah telaga Nabi kita, Muhammad n.” (Syarh Aqidah Washitiyah 2/159—160)

 

Sifat-Sifat Telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam

Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi Rahimahullah berkata, “Kesimpulan yang dapat diambil dari hadits-hadits sahih yang menyebutkan sifat-sifat telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam adalah sebagai berikut.
  • Telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam adalah sebuah telaga yang agung
  • Tempat yang mulia
  • Dialiri dari air minum yang berada di surga dari sungai al-Kautsar
  • Warnanya lebih putih daripada susu
  • Suhunya lebih dingin daripada salju/es
  • Lebih manis daripada madu
  • Lebih wangi daripada misik
  • Telaga yang sangat luas, panjang dan lebarnya sama.
  • Panjang setiap sisinya sejarak perjalanan satu bulan.” (Syarh Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 311)
Adapun di antara dalil yang menunjukkan sifat-sifat telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam yang disimpulkan oleh al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi Rahimahullah adalah:
a. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda,
أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنَ الْجَنَّةِ أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ وَالْآخَرُ مِنْ وَرِقٍ
“Warna airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis daripada madu. Dua pancuran yang bersumber dari sungai surga (al-Kautsar) yang mengalirinya: satu pancuran dari emas dan pancuran lainnya dari perak.” (HR. Muslim dari Tsauban z)
b. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam juga bersabda,
حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا
“Telagaku (lebar dan panjangnya) sejauh perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih daripada perak, baunya lebih harum daripada misik, dan bejana-bejananya sejumlah bintang-bintang di langit. Barang siapa yang meminumnya, niscaya dia tidak akan merasa haus selamanya.”(HR. Muslim dari Abdullah bin Amr c)

Kaum yang Dihalangi dari Telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin Rahimahullah berkata, “Yang akan datang dan minum dari telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam adalah orang-orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi Wasallam, yaitu orang yang mengikuti syariat beliau Shallallaahu ‘alaihi Wasallam. Adapun orang yang enggan dan sombong untuk mengikuti syariatnya, niscaya akan diusir dari telaga Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam.” (Syarh Aqidah al-Wasithiyah 2/158)
Dari Asma’ bintu Abu Bakr c, Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda,
إِنِّي عَلَى الْحَوْضِ حَتَّى أَنْظُرَ مَنْ يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكُمْ، وَسَيُؤْخَذُ نَاسٌ دُونِي فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي. فَيُقَالُ: هَلْ شَعَرْتَ مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ، وَاللهِ مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ
“Sungguh, aku (akan menunggu) di telaga hingga aku bisa melihat orang yang datang kepadaku dari kalian (kaum muslimin). Beberapa orang akan diambil sebelum sampai kepadaku. Aku lantas mengatakan, ‘Wahai Rabbku, mereka dari golonganku dan dari umatku.’ Lalu dikatakan kepadaku, ‘Apakah engkau mengerti apa yang mereka lakukan sepeninggalmu? Demi Allah, mereka telah murtad dari agamanya’.” (HR. Muslim)
يَرِدُ عَلَيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ أَصْحَابِي فَيُحَلَّئُونَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، أَصْحَابِي. فَيَقُولُ: إِنَّكَ لَا عِلْمَ لَكَ بِمَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
“Satu rombongan dari sahabatku akan melewatiku nanti pada hari kiamat. Namun, mereka diusir dari telaga itu. Aku katakan, ‘Wahai Rabbku, mereka adalah para sahabatku.’ Allah l menjawab, ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’.” (HR. Muslim)
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah menerangkan, “Yang dimaksud oleh hadits ini adalah satu kaum yang murtad dari agamanya. Mereka bukan para sahabat g. Oleh karena itu, dikatakan kepada beliau n, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.’ Adapun para sahabat g tidak mengadakan sedikit pun perkara yang baru (dalam agama) setelah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi Wasallam wafat. Bahkan, mereka menyebarkan agama (ke seluruh dunia) dan menyampaikan risalah beliau sebagaimana mestinya.” (Syarh Aqidatus Salaf hlm. 152)
Al-Imam al-Qurthubi Rahimahullah berkata, “Para ulama kita hafizhahumullah mengatakan, ‘Setiap orang yang murtad dari agamanya atau mengada-adakan suatu perkara baru dalam agama (bid’ah) yang tidak diizinkan dan diridhai oleh Allah l, maka dia termasuk golongan orang-orang yang diusir atau dihalangi dari telaga Nabi n. Adapun yang paling keras diusir adalah setiap orang yang menyelisihi jamaah kaum muslimin dan memisahkan diri (menyempal) dari mereka, seperti Khawarij beserta sekte-sektenya, Syiah Rafidhah beserta sempalan-sempalannya, dan Mu’tazilah beserta pecahan-pecahannya. Merekalah orang-orang yang mengganti agamanya.” (at-Tadzkirah hlm. 352)
Sebagai penutup, kita panjatkan doa,
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu!”
Catatan Kaki:
1 Sebuah kota pelabuhan di wilayah Jordania. Jaraknya dengan Aden lebih dari 2.000 km. (-red.)

Sembelihanku Hanya untuk Allah

Makna Syahadat
Para pembaca yang semoga dirahmati Allah. Syarat seseorang masuk ke dalam islam adalah dengan mengucapkan Syahadat Laa ilaaha illallāh, persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah melainkan hanya Allah semata. Namun persaksian ini tidak hanya diucapkan semata-mata, melainkan dipelajari dan dipahami. Ketika seseorang mengucapkan persaksian ini, menunjukkan ia telah mengetahui konseksuensi dari pengucapannya, yakni memurnikan segala bentuk peribadatan hanya kepada Allah semata, dan keyakinan bahwa segala sesembahan selain Allah adalah salah.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah sesembahan yang benar dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah adalah salah.” (QS. Al Hajj : 62 ; Luqman : 30)
Menyembelih adalah suatu ibadah
Para ulama menjelaskan bahwa makna ibadah ada 2, ibadah yang bermakna ta’abbud, yakni menghinakan diri dan tunduk kepada Allah. Dan makna yang kedua adalahalmuta’abbadbihi (beribadah dengan suatu hal), artinya segala hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik itu berupa perkataan, perbuatan atau hal lainnya yang tampak atau tersembunyi. Baik berupa perbuatan hati, lisan dan anggota badan. (Syarah Ushul Tsalatsah, Syaikh Sulaiman Ar Ruhaily)
Sesuatu dapat dikatakan ibadah jika perbuatan tersebut merupakan ketundukan kepada Allah dan sesuatu yang dicintai serta diridhoi oleh Allah. Sebaliknya, tidaklah disebut suatu ibadah, jika sebuah perbuatan tidak dilakukan dengan rasa ketundukan dan perendahaan diri kepada Allah, sebagaimana juga tidak dapat disebut ibadah, jika perbuatan itu tidak dicintai dan diridhai oleh Allah.
Dengan penjelasan di atas, menyembelih adalah suatu perbuatan ketundukan kepada Allah, serta perbuatan yang dicintai dan diridhoi oleh Allah. Allah berfirman (yang artinya), “Katakanlah: sesungguhnya shalatku, nusuk-ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’am : 162)
Kata “nusuk” secara bahasa artinya ibadah. Namun yang dimaksud oleh syariat adalah sembelihan. Maka, kata “nusuk” dalam ayat ini dapat dimaknai sebagai ibadah secara umum, dapat pula dimaknai penyembelihan, dan penyembelihan adalah salah satu bentuk dari ibadah. (Lihat Al Qaulul Mufîd, 1/216)
Para ulama tafsir juga menyebutkan, makna shalat, nusuk (sembelihan), hidup dan mati dari ayat di atas mempunyai makna yang umum, mencakup segala bentuk shalat dan sembelihan yang dilakukan seorang muslim. Sehingga pemaknaan yang menyeluruh dari ayat di atas adalah “Sesungguhnya segala bentuk sholat yang aku kerjakan, segala bentuk penyembelihan yang aku lakukan dan segala bentuk kegiatan yang aku perbuat ketika aku hidup dan mati, maka semata-mata hanya untuk engkau ya Allah, Rabb semesta alam”
Larangan menyembelih kepada selain Allah Ta’ala
Allah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan.” (QS. Al An’am : 121)
Dari ‘Ali radhiyallahu ’anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamberpesan kepadaku dengan empat nasihat (diantaranya) : “Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim)
Dari dua dalil diatas, menunjukkan pelarangan menyembelih yang dipersembahkan kepada selain Allah Ta’ala, apapun bentuknya.
Menyembelih kepada selain Allah adalah kesyirikan
Kesyirikan adalah menyekutukan segala sesuatu dengan Allah Ta’ala. Ketika seseorang beribadah kepada Allah, namun juga beribadah kepada selain Allah, maka ia telah melakukan kesyirikan. Sama halnya dengan menyembelih, ketika seseorang beribadah kepada Allah, namun melakukan penyembelihan hewan kepada selain Allah, maka ia telah berbuat syirik.
Dan ketika seseorang melakukan kesyirikan, ia telah melakukan perbuatan dosa yang besar. Allah berfirman (yang artinya), “Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman : 13)
Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al An’am :88)
Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhan-ku dan Tuhan-mu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” (QS. Al Maa-idah : 72)
Jenis-Jenis Sembelihan
Pembaca yang dirahmati Allah, perlu diketahui bahwa sembelihan ada beberapa macam :
1.      Sembelihan Ibadah : seseorang yang menyembelih dalam rangka mendekatkan diri dan mengagungkan Allah Ta’ala. Semisal menyembelih hewan kurban saat hari raya kurban.
2.      Sembelihan Syirik : seseorang yang menyembelih dalam rangka mendekatkan diri kepada selain Allah dalam bentuk ibadah dan pengagungan.  Model yang semacam ini banyak. Di antaranya menyembelih ditujukan kepada jin ketika membangun rumah, atau ketika membangun jembatan agar pembangunan berjalan lancar, dan lain-lain. Termasuk juga menyembelih yang ditujukan kepada penghuni kubur, berhala, pohon yang dikeramatkan, dan lain-lain.
3.      Sembelihan Bid’ah sembelihan yang tidak ada dasar syari’atnya. Semisal menyembelih hewan saat sholat istisqa’, menyembelih saat perayaan acara Maulid,dan lain-lain.
4.      Sembelihan Mubah : sembelihan yang tujuannya untuk hal-hal mubah. Seperti menyembelih untuk dimakan dagingnya atau untuk dijual dagingnya. Yang demikian ini hukumnya mubah. (Taisirul Wushuul ilaa Nailil Ma’muul bi Syarhi Tsalatsatil Ushuul 62-63, Syaikh Nu’man bin ‘Abdil Kariim)
Praktek penyembelihan di masyarakat
Jika kita melihat praktek-praktek penyembelihan di masyarakat, banyak sekali sembelihan-sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah Ta’ala. Baik itu sembelihan kepada penguasa laut, gunung, pohon atau selainnya. Padahal jika melihat penjelasan di atas, perbuatan menyembelih adalah suatu ibadah. Jika ibadah ditujukan kepada selain Allah, maka hal tersebut adalah termasuk kesyirikan, dan Allah berfirman yang artinya:
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisaa : 48).
Disamping kita dilarang menyembelih yang dipersembahkan kepada selain Allah, Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- juga melarang melakukan aktifitas penyembelihan yang dilakukan di tempat-tempat yang biasa digunakan oleh orang-orang musyrik untuk menyembelih. Dimana mereka menyembelih hewan-hewan sembelihan dan mereka persembahkan untuk sesembahan-sesembahan mereka, walaupun penyembelihan itu disyariatkan dan dengan menyebut nama Allah.
Sebagai contoh, ketika seseorang menyembelih hewan kurban pada hari raya idul adha, maka tidak boleh diadakan dan dilakukan di tempat orang musyrik menyembelih hewan sesembahan mereka. Karena hal ini termasuk penyerupaan dengan orang-orang musyrik dari sisi lahiriyah. Bahkan bisa menimbulkan fitnah atau anggapan di masyarakat, bahwa menyembelih di tempat tersebut adalah lebih utama dari selainnya.
Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorang laki-laki yang bernazar untuk menyembelih seekor unta di suatu tempat benama Buwanah. Ia pun bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah di tempat itu pernah terdapat satu berhala dari berhala-berhala jahiliyyah yang disembah?” Para sahabat berkata, “Tidak”. “Apakah dahulu pernah dipakai untuk menyelenggarakan satu hari besar dari hari-hari besar mereka (orang-orang musyrik)?”, mereka menjawab, “Tidak”. Kemudian Rasulullah –shalallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Kalau begitu, tunaikanlah nazarmu” (HR. Abu Dawud)
Penutup
Para pembaca yang semoga dirahmati Allah, perbuatan menyembelih sangatlah erat dengan konsekuensi dari syahadat yang kita ucapkan. Seseorang yang mengerti akan makna syahadatnya, tentu tidak akan melakukan penyembelihan yang dipersembahkankepada selain Allah Ta’ala. Karena ia telah tahu, bahwa penyembelihan adalah bentuk ibadah yang tidak boleh ditujukan kepada selain Allah Ta’ala. Walaupun di tempatnya, penyembelihan kepada selain Allah merupakan adat istiadat daerahnya atau ritual yang dilakukan oleh masyarakatnya. Akan tetapi, ketika ia tahu makna syahadat yang benar, maka ia serta merta meninggalkannya dan menentang perbuatan tersebut. Karena perbuatan itu adalah perbuatan kesyirikan yang dosanya sangat besar sampai-sampai Allah tidak akan mengampuni dosanya sampaidia bertaubat sebelum matinya.
Wallahu a’lam. Wa shallallahu wa sallama ‘alaa nabiyyina Muhammadin.
Penulis : Rian Permana, S.T. (Alumni Ma’had Al ‘Ilmi Yogyakarta)

unduh e-book

books_medium
Bismillah.
Para pembaca yang dirahmati Allah, berikut ini adalah kumpulan e-book Islam yang berisi nasehat dan pelajaran untuk kaum muslimin. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita.
1. Buah Ketaatan
Download Word
Download PDF
2. Kapan Kiamat Tiba?
Download Word
Download PDF
3.  Mengikhlaskan Ibadah Kepada Allah
Download Word
Download PDF
4. Kumpulan Nasehat dan Pelajaran
Download Word
Download PDF
5. Jembatan Menggapai Kemuliaan Pribadi dan Umat
Download Word
Download PDF
6. Kumpulan Faidah Seputar Tafsir
Download Word
Download PDF
7. Kumpulan Faidah Seputar Tauhid
Download Word
Download PDF
8. Empat Kaidah Dasar Untuk Memahami Tauhid [bagian 1]
Download PDF
Download Word
9. Empat Kaidah Dasar Untuk Memahami Tauhid [bagian 2]
Download PDF
Download Word
10. Empat Kaidah Dasar Untuk Memahami Tauhid [bagian 3]
Download PDF
Download Word
11. Empat Kaidah Dasar Untuk Memahami Tauhid [bagian 4]
Download PDF
Download Word
12. Empat Kaidah Dasar Untuk Memahami Tauhid [bagian 5]
Download PDF
Download Word
13. Dua Puluh Rintangan Kehidupan
Download PDF
Download Word
14. Betapa Berharganya Ilmu
Download PDF
Download Word
15. Luruskan Niat, Gapai Pahala Berlipat Ganda
Download PDF
Download Word
16. Kakek Tidak Perlu Khawatir
Download PDF
Download Word
17. Tetaplah Tegar, Wahai Ayah!
Download PDF
Download Word
18. Empat Kaidah Dasar Untuk Memahami Tauhid [bagian 6]
Download PDF
Download Word
19. Empat Kaidah Dasar Untuk Memahami Tauhid [bagian 7]
Download PDF
Download Word
20. Hakikat Kalimat Tauhid
Download PDF
Download Word
21. Empat Kaidah Dasar Untuk Memahami Tauhid [bagian 8]
Download PDF
Download Word
22. Empat Kaidah Dasar Untuk Memahami Tauhid [bagian 9]
Download PDF
Download Word
23. Sebuah Pengantar Untuk Memahami Tauhid
Download PDF
Download Word
24. Peranan Sabar Di Dalam Kehidupan
Download PDF
Download Word
25. Memetik Pelajaran Dari Fitnah Yang Menimpa Imam Bukhari
Download PDF
Download Word
26. Memakmurkan Masjid Dengan Sholat Jama’ah
Download PDF
Download Word
27. Mengenal Imam Waki’ bin al-Jarrah
Download PDF
Download Word
28. Keutamaan-Keutamaan Tauhid
Download PDF
Download Word
29. Konsekuensi Laa Ilaha Illallah
Download PDF
Download Word
30. Obrolan Ringan Seputar Dakwah
Download PDF
Download Word
31. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 1]
Download PDF
Download Word
32. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 2]
Download PDF
Download Word
33. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 3]
Download PDF
Download Word
34. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 4]
Download PDF
Download Word
35. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 5]
Download PDF
Download Word
36. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 6]
Download PDF
Download Word 
37. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 7]
Download PDF
Download Word
38. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 8]
Download PDF
Download Word
39. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 9]
Download PDF
Download Word
40. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 10]
Download PDF
Download Word
41. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 11]
Download PDF
Download Word
42. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 12]
Download PDF
Download Word
43. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 13]
Download PDF
Download Word
44. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 14]
Download PDF
Download Word
45. Mutiara Ilmu Tauhid Dalam Surat al-Fatihah
Download Word
46. Ma’rifatullah, Hikmah Penciptaan Insan
Download PDF
Download Word
47. Dakwah Para Rasul
Download PDF
Download Word
48. Merealisasikan Tauhid Dalam Kehidupan
Download PDF
Download Word
49. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 15]
Download PDF
Download Word
50. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 16]
Download PDF
Download Word
51. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 17]
Download PDF
Download Word
52. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 18]
Download PDF
Download Word
53. Mutiara Hikmah Surat al-Fatihah, Syaikh al-Utsaimin [Bagian 1]
Download PDF
Download Word
54. Mutiara Hikmah Surat al-Fatihah, Syaikh al-Utsaimin [Bagian 2]
Download PDF
Download Word
55. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 19]
Download PDF
Download Word
56. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 20]
Download PDF
Download Word
57. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 21]
Download PDF
Download Word
58. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 22]
Download PDF
Download Word
59. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 23]
Download PDF
Download Word
60. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 24]
Download Word
61. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 25]
Download PDF
Download Word
61. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 26]
Download PDF
Download Word
62. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 27]
Download PDF
Download Word
63. Mutiara Hikmah Ulama Salaf [Bagian 28]
Download PDF
Download Word