Diantara kiat agar bisa teguh menjadi seorang muslim sejati adalah berorientasi selalu mencari ridha-Nya. Sesungguhnya Allah swt menjanjikan pada hamba-hamba-Nya yang ikhlas untuk dicukupi dan dilindungi dari berbagai mara bahaya. Allah berfirman "Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya." (QS Az-Zumar: 36)
Berdasarkan ayat tersebut maka penghambaan pada Allah yang sejati merupakan salah satu sarana tegar di atas kebenaran. Perlindungan yang Allah berikan kepada hamba-Nya berbanding lurus dengan penghambaan hamba tersebut kepada-Nya. Jika penghambaan kita sempurna maka perlindungan sempurna. Sebaliknya jika penghambaan kita tidak sempurna maka demikian pulalah perlindungan Allah. Seorang mukmin sejati adalah seorang yang beribadah kepada Allah sesuai dengan apa yang Allah inginkan dan berupaya mencari ridha Allah.
Inilah seorang hamba yang bebas, seorang hamba yang tidak dibatasi oleh ikatan dan seorang hamba yang amalnya tidak disesuaikan dengan keinginannya sendiri atau mencari ibadah-ibadah yang menyenangkan saja. Hamba tersebut berjalan sesuai dengan keinginan Tuhannya meskipun syahwat dan keinginannya ada pada yang lain.
Inilah orang yang merealisasikan iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in secara utuh. Ia memakai pakaian seadanya, demikian pula makanannya. Semua kesibukannya untuk menjalankan perintah Allah, baik dalam seluruh waktu maupun tempat berdiamnya. Hamba tersebut terbebas dari berbagai penghalang selain aturan Allah. Dia mengikuti perintah-Nya di mana saja perintah tersebut berada. Karenanya dia adalah seorang yang keras terhadap orang-orang yang menyelisihi perintah Allah dan marah jika hal yang Allah haramkan itu dilanggar.
Kiat yang lainnya adalah menjauhi sumber bencana. Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya orang yang bahagia adalah orang yang dijauhkan dari sumber bencana, dan orang yang bersabar ketika mendapat ujian." (HR Abu Dawud) Hadits tersebut menunjukkan bahwa kita dilarang melangkahkan kaki menuju tempat-tempat yang menyebabkan orang berprasangka yang bukan-bukan. Allah berfirman: "Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan." (QS Al-Furqan: 63) Mengingat hadits riwayat Abu Dawud diatas maka kita berkewajiban untuk menjaga pandangan. Menundukkan pandangan merupakan pelindung dari godaan wanita sebagaimana firman Allah yang artinya, "Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya.".(QS An-Nuur: 30) Godaan wanita merupakan godaan terberat bagi laki-laki, Nabi bersabda, "Tidaklah aku tinggalkan setelah ku satu cobaan yang lebih berat bagi laki-laki daripada wanita." (HR Bukhari). Beliau juga bersabda, "Sesungguhnya dunia itu manis dan menawan dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai pengelola dunia, lalu Dia hendak melihat bagaimanakah amal yang kalian lakukan. Oleh karena itu, hati-hatilah dengan dunia dan hati-hatilah dengan wanita karena sesungguhnya bencana yang pertama kali menimpa Bani Israil itu disebabkan wanita." (HR Muslim)
Kiat yang ketiga, Jangan bersahabat dengan kawan yang buruk. Kawan yang buruk akan menampakkan kepada kita bahwa kemaksiatan itu sesuatu yang indah dan menyebabkan kita meremehkan ketaatan. Pepatah Arab mengatakan, "Shahib sahib" (Kawan itu bagaikan magnet). Rasulullah saw bersabda, "Permisalan teman yang baik dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Bersahabat dengan penjual minyak wangi engkau bisa membeli minyak wangi darinya atau dia menghadiahkan minyak wangi kepadamu dan engkau mendapatkan aroma yang wangi. Sedangkan bersahabat dengan pandai besi itu bisa menyebabkan pakaianmu terbakar atau minimal pakaian menjadi berbau tidak enak." (HR Bukhari) Mengomentari hadits di atas Imam Nawawi v mengatakan, "Hadits tersebut menunjukkan keutamaan bersahabat dengan orang shalih, orang yang suka melakukan kebaikan, memiliki akhlak mulia, wara', ilmu, dan sopan santun. Hadits tersebut juga melarang berkawan dengan orang jahat atau ahli bid'ah. Demikian pula orang yang suka menggunjing orang lain, sering berbuat maksiat, sering lontang-lantung dan sifat-sifat tercela yang lain." Sedangkan Ibnu Hajar v mengatakan, "Hadits tersebut berisi larangan berkawan dengan orang yang akan merusak agama dan keduniawian kita, dan hadits itu memotivasi untuk bersahabat dengan orang-orang yang bisa menyebabkan kita mendapatkan manfaat dengan bersamanya."
Kiat selanjutnya, Hendaknya kita memilih bersahabat dengan orang-orang yang shalih. Kebaikan yang kita dapatkan dari teman yang shalih itu jauh lebih besar daripada minyak kasturi yang semerbak. Teman yang baik akan mengajari kita hal-hal yang bermanfaat baik berkaitan dengan agama ataupun dunia. Memberikan nasehat kepada kita, mengingatkan kita untuk tidak terus menerus melakukan hal yang berbahaya, memotivasi kita untuk taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, dan menjalin hubungan kekerabatan. Disamping itu, teman yang baik akan memperlihatkan kepada kita berbagai kekurangan yang ada pada diri kita dan mendorong kita untuk memiliki akhlak yang luhur dan terpuji dengan ucapan-perbuatan dan sikapnya.
Sesungguhnya manusia itu memiliki fitrah untuk mengikuti teman dekatnya. Karakter dan ruh itu bagaikan sekelompok pasukan yang sudah tertata rapi. Sehingga teman itu akan menyeret temannya untuk melakukan kebaikan atau melakukan kejahatan. Manfaat minimal yang kita dapatkan dari bershahabat dengan orang yang shalih menyebabkan kita tertahan untuk melakukan kejelekan dan kemaksiatan mengingat keberadaan shahabat kita tersebut. Kita termotivasi pula untuk berlomba dalam kebaikan dan kita merasa sungkan untuk melakukan keburukan. Rasa cinta kepada teman yang shalih dan doanya untuk kita adalah satu hal yang bermanfaat ketika kita masih hidup dan sesudah mati. Kita terkadang mendapatkan manfaat disebabkan berhubungan dengan orang tertentu karena memang diantara manusia ada yang merupakan kunci-kunci kebaikan dan penutup berbagai keburukan. Sekarang ini kita hidup di zaman yang kacau balau, maka kita sangat membutuhkan orang yang menunjukkan kepada kita jalan yang benar, membantu kita untuk melakukan ketaatan dan meneguhkan kekuatan kita untuk tegak di atas kebenaran. Allah berfirman yang artinya, "Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah . Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'min." (QS Al-Anfal: 62)
Jadi hendaknya kita selalu bersama orang-orang yang shalih dan memilih bersahabat dengan orang-orang yang jujur, duduk dengan para orang-orang yang berilmu serta mewaspadai dari teman-teman yang buruk yang akan mencabik-cabik agama kita atau minimal menggoyahkan keyakinan kita. Rasulullah bersabda, "Agama seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah kalian perhatikan siapa yang dia jadikan sebagai teman dekat." (HR Turmudzi) Sufyan bin Uyainah mengatakan, "Camkan baik-baik Fir'aun itu bersahabat dengan Haman, sedangkan Al-Hajaj bin Yusuf bersahabat dengan Yazid bin Abi Muslim seorang yang lebih jahat darinya, namun renungkanlah baik-baik keadaan Khalifah Sulaiman bin Abdil Malik yang bershabahat dengan seorang ulama bernama Raja' bin Haiwa. Akhirnya Raja' membimbing dan meluruskan tindakan khalifah." Ada seorang yang berkata kepada Dawud At-Tha'i,"Berilah aku sebuah wasiat." Beliau berkata, "Bersahabatlah dengan orang-orang bertakwa karena mereka adalah penduduk dunia yang paling sedikit biayanya namun paling besar manfaatnya."

0 Komentar